Catatan

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

Thus Spoke Zarathusta "You go to women? Do not forget the whip"


Mengapa kau menyelinap sembunyi-sembunyi di kala senja, Zarathustra? Dan apa yang kau sembunyikan dalam jubahmu? Apakah itu harta karun yang telah diberikan seseorang padamu? Ataukah bayi yang telah kau lahirkan? Atau kau sedang melakukan misi untuk mencuri, apakah kau seorang teman pencuri?

Sungguh, saudaraku, seru Zarathustra. ini adalah harta karun yang telah diberikan padaku: ini adalah kebenaran kecil yang aku bawa. Tetapi ia nakal seperti anak kecil, dan jika aku tidak tutup mulutnya ia akan menjerit sangat keras. Hari ini seraya aku berjalan seorang diri, pada saat matahari terbenam, seorang perempuan tua datang mendekatiku, dan berkata demikian ke jiwaku:„ Zarathustra juga banyak berbicara pada kita soal perempuan, tetapi ia tidak pernah berbicara pada kita mengenai perempuan. Dan ia menjawab "Seseorang hanya berbicara mengenai perempuan pada lelaki‟.

Ceritakanlah padaku tentang perempuan, kata perempuan tua; „Aku cukup tua dan segera akan melupakan semua ini.

Dan Zarathustra penuhi permintaan perempuan tua ini dan berseru padanya demikian: Segalanya mengenai perempuan adalah teka-teki, dan segalanya mengenai perempuan punya satu jawaban: yaitu dinamakan kehamilan. Laki-laki bagi perempuan itu berarti alat: tujuannya adalah anak. Tetapi apa perempuan bagi lelaki? ada Dua hal yang lelaki sejati inginkan: bahaya dan permainan. Maka ia menginginkan perempuan, perempuan sebagai permainan yang paling berbahaya. Lelaki musti dilatih untuk berperang, sedangkan perempuan untuk rekreasinya sang ksatria: kalu tidak begitu itu bodoh namanya. Buah yang terlalu manis, tidak disukai oleh sang satria. Maka ia suka perempuan; bahkan perempuan yang termanis pun tetap saja pahit rasanya. Perempuan lebih mengerti tentang anak daripada lelaki, tetapi lelaki lebih kekanak-kanakan daripada perempuan. Di dalam diri lelaki yang sejati bersembunyi jiwa kekanak-kanakan: ia ingin main. Mari kau para perempuan, temukanlah kekanakan dalam diri lelaki! Biar perempuan itu menjadi barang mainan, halus dan murni laksana batu permata berharga disinari kebajikan-kebajikan dunia yang belum lagi ada.Biar cahaya terang bintang berkilauan dalam cinta kamu! Biar harapan kamu berkata „Semoga aku melahirkan sang Superman!‟ Biar ada keberanian di dalam cinta kamu! Dengan cinta kau, kau musti serang ia dan menyulut rasa takut kau. Biar ada rasa hormat dalam cinta kau! Sedikit perempuan yang akan mengerti kehormatan, jika tidak. Biar kehormatan kau itu menjadi: selalu lebih mencintai daripada yang mencintai kau, jangan sampai ketinggalan. Biar lelaki takut pada perempuan ketika perempuan ini mencintai. Lalu perempuan ini akan membuat segala pengorbanan, dan segalanya ia anggap tidak berharga. Biar lelaki takut pada perempuan ketika perempuan ini membenci: karena dasar jiwa lelaki itu adalah jahat, sedangkan perempuan adalah buruk.Siapakah yang sangat dibenci perempuan?
 –
Maka berkata besi pada magnet: „Aku sangat membenci kamu, karena kamu menarikku, tetapi tidak cukup kuat untuk menyeretku pada kamu.
 –
Kebahagiaan lelaki: Aku mau. Kebahagiaan perempuan: Laki-laki itu mau.
„Perhatikan, sekarang dunia menjadi sempurna!‟ –  pikir setiap perempuan ketika perempuan itu patuh dengan sepenuh cintanya. Perempuan itu harus patuh dan menemukan kedalamannya bagi permukaannya. Jiwa perempuan adalah permukaan, berubah-ubah, selaput tipis yang bergejolak di atas air dangkal.Tetapi jiwa lelaki adalah dalam, alirannya menyembur deras dari gua-gua bawah tanah: perempuan merasakan kekuatannya tetapi tidak mengerti.

Lalu perempuan tua ini menjawab: „Zarathustra telah banyak berkata akan segala yang baik, khususnya bagi mereka yang cukup muda untuk ini. „Janggal, Zarathustra tahu hanya sedikit tentang perempuan, namun ia benar mengenai mereka! Apakah, karena dengan perempuan, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin? „Dan sekarang terimalah satu kebenaran kecil ini sebagai rasa terimakasihku! Aku cukup tua untuk ini!
„
Bungkuslah dan tutup mulutnya: jika tidak demikan akan berteriak sangat keras, kebenaran kecil ini.
‟
„Berikan aku kebenaran kecil kamu itu, perempuan! Zarathustra berkata. Lalu berkatalah perempuan tua ini:„ "Jika Kau mengunjungi perempuan ? Jangan lupa membawa cambuk!‟



Ini seruan Zarathustra.



Minggu, 15 September 2013

Sekolah Adalah Pabrik


We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey! teachers! leave the kids alone!
All in all you're just another brick in the wall.
All in all you're just another brick in the wall.

(Pink Floyd - Another Brick In The Wall)





Seseorang pernah berkata bahwa di dunia modern, sekolah adalah pabrik. Para guru dan dosen adalah buruh yang diupah untuk bekerja demi kelangsungan sistem ekonomi komoditi. Kerja mereka adalah mencetak, mengemas, mendisiplinkan, mempersiapkan murid-murid mereka menjadi produk yang dapat laris diperjualbelikan, diperebutkan dipasar kerja. Produk yang baik tentu tinggi harga tawarnya. Produk yang baik adalah yang efisien, penurut, tahan lama, mampu menghasilkan keuntungan yang melimpah bagi penyewanya. Engkau bilang sekolah itu mencerdaskan? Tidak kawanku sekolah adalah pabrik untuk mencetak produk - persis seperti pabrik-pabrik lainya yang mencetak komoditi. Masalahnya komoditi disini adalah pelajar, mahasiswa. Tanyakan pada dirimu sendiri, untuk apa dirimu sekolah? Tentu saja, engkau akan menjawab; agar mudah mencari pekerjaan dan diupah dengan tinggi. Dan bagaimana caranya agar demikian? Tentu saja, engakau harus efisien, penurut, tahan lama, mampu menghasilkan keuntungan keuntungan berlimpah bagi penyewamu. Buka matamu kawanku, di sekolah atau di kampus, tugasmua bukan belajar agar menjadi manusia, tetapi belajar menjadi produk. Sungguh engkau tak lebih dari sekedar produk yang dapat diperjualbelikan dan dibuang dikala ada produk lain yang lebih baik.





Pernikahan dan Affair


Tak ada lagi batas untuk diruntuhkan, tak ada lagi mata rantai untuk dipatahkan selain pikiranmu sendiri. 
Kemabukan yang begitu tenang. Hasrat untuk hidup bebas, mencinta dan melarikan diri. 
Mimpi-mimpi telah mendahagakan diri akan harapan, menggigit dan menekan hidup. 
Interlude yang menggeliat, gerak yang melilit jemari, tangan yang meremas lembut dalam genggaman, melepaskan orgasme kemerahanmu lebih daripada aksi apapun. 
Cinta tak akan terdefinisikan, begitu subtil.
Maka saat itulah affair cintaku dengan sebuah spirit yang tak bernama bermula...



"Ai sia teu hayang cinta maneh abadi" (apakah kamu ga mau cinta kamu abadi). Salah seorang kawan bertanya padaku, dia merasa heran dengan kelakuanku yang akhir-akhir ini menjalankan hubungan affair dengan wanita yang sudah bersuami, Entahlah.., tapi bagiku cinta abadi itu memang tidak ada bagaimana bisa aku berharap keabadian pada makhluk yang tidak abadi, mencari cinta yang abadi bagiku adalah kesia-sian,

"Sia teu mikir geus ngarusak rumah tangga batur"  (kamu ga berpikir telah merusak rumah tangga orang)." lanjut kawanku. Bagaimana aku berpikir itu merusak bagiku affair dengan pernikahan adalah sesuatu hal yang berbeda. Pernikahan dan Affair tidak ada kaitanya sama sekali.

Mitologi-mitologi yang tersebar dari dunia Barat hingga ke Timur, memberitahukan satu hal: pernikahan adalah sebuah reuni dari dua sisi yang saling melengkapi. Awalnya kita semua adalah satu. Melalui pernikahan kita adalah dua di atas dunia, tapi poin yang ada jelas bukan hal tersebut, melainkan pertemuan kembali dua identitas spiritual. Inilah mengapa pernikahan seharusnya dibedakan dari affair cinta. Pernikahan tidak ada kaitannya dengan hal tersebut.

Affair cinta adalah sebuah pengalaman spiritual yang berbeda, yang tidak menjejakkan kaki di atas tanah yang sama, walaupun berhubungan. Saat satu pasangan menikah karena mereka berpikir bahwa pernikahan adalah sebuah affair cinta jangka panjang, mereka akan bercerai pada satu saat nanti—kalaupun tidak bercerai, mereka hanya berjalan berbarengan secara fisikal tanpa kedekatan spiritual apapun—karena semua affair cinta akan berakhir dengan kepedihan. Saat kita hidup dengan mengikuti kata hati kita sendiri, kita akan menemukan pasangan kita, baik lelaki ataupun perempuan, karena kita telah membuka medan magnet yang tersembunyi dalam diri kita sendiri. Kita membuka medan magnet tersebut justru dengan mulai hidup, bertindak, berpikir seperti adanya diri kita sendiri, bukan dengan sekedar hidup seperti yang orang lain inginkan atau hidup demi nilai-nilai artifisial orang lain. Saat kita mendengarkan diri kita sendiri, membiarkan hati kita menuntun hidup kita, maka kita akan menemukan orang lain yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Saat kita memilih pasangan berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh orang lain atau bahkan masyarakat, khususnya masyarakat modern, kita akan selalu terjebak pada kriteria-kriteria fisikal—kriteria-kriteria yang lebih cocok untuk affair cinta. Dengannya, kita menikahi orang yang tidak tepat. Tapi saat kita menikahi orang yang tepat, sadar atau tidak, kita telah merekonstruksi citra inkarnasi Tuhan, itulah arti sebuah pernikahan.

Tapi apabila pernikahan adalah sebuah pertemuan kembali, reuni, dari diri dengan diri, lantas mengapa Emma Goldman misalnya, begitu menentang pernikahan? Seperti kita ketahui, Emma Goldman bukanlah seorang materialis murni, karena ia juga percaya dengan keberadaan diri, dengan spiritual, dan bahkan eksistensi takdir, walaupun ia adalah seorang anarkis yang begitu peduli pada apapun yang bersifat material.

Di bawah hegemoni dunia modern, apa yang kita kenal dengan pernikahan bukan lagi sebuah pernikahan seperti yang dijabarkan di atas. Pernikahan adalah sebuah pertemuan dua diri secara spiritual. Aspek biologis dan fisikal, adalah sesuatu yang melengkapi tapi tidak menjadi sesuatu yang primer, apabila keduanya menjadi primer seringkali kedua hal tersebut membawa kita pada identifikasi yang tidak tepat. Seringkali, pernikahan yang sesungguhnya, justru tidak diresmikan atau dilegalkan di bawah Undang-Undang ataupun hukum pernikahan yang berlaku, saat pernikahan di era modern justru mengikat segalanya dengan berbagai aturan tertulis, penuh ancaman hukuman, dan karenanya, ikatan yang terjadi hanyalah sebuah ikatan di atas kertas bermeterai, bukan lagi ikatan berdasar etos. Kita selalu dihadapkan pada sesuatu yang bersifat fisik: kecantikan, ketampanan, kemapanan dan stabilitas ekonomi, legalitas yang disahkan di atas kertas, kehadiran penghulu. Fisik, fisik, dan fisik.

Tapi fisik juga bukan sesuatu yang seharusnya dihindari, terutama karena aku bukan seorang pendeta yang bercita-cita menjadi malaikat—makhluk spiritual tanpa ujud fisik. Aku adalah seorang manusia, yang memiliki aspek spiritual tapi juga ujud fisikal. Demikian juga dalam pernikahan, fisik juga sesuatu yang membuatnya lengkap tapi bukan sesuatu yang primer. Ada dua tahap dalam pernikahan. Pertama, adalah gairah yang mendorong impuls-impuls yang indah yang diberikan pada kita oleh alam dalam permainan seks yang secara biologis dapat memproduksi sebuah kehidupan baru. Seorang anak, adalah kehidupan lain di mana ia (atau mereka, apabila sang anak lebih dari satu) mengikatkan sekaligus menginisiasi relasi pernikahan untuk memasuki tahap selanjutnya. Pada saat sang anak beranjak dewasa, memilih hidupnya sendiri dan meninggalkan kedua orangtuanya, pernikahan memasuki tahap berikutnya. Saat inisiasi yang tanpa sadar diberikan oleh sang anak, seringkali kedua orangtuanya melihat bahwa pernikahan diikat oleh keberadaan sang anak, di mana mata rantainya adalah sang anak itu sendiri. Apabila demikian yang terjadi, maka kepergian sang anak akan membawa pergi juga pernikahan yang belum sempat memasuki tahap kedua. Dengan kata lain, pernikahan telah gagal dalam program inisiasi yang diberikan oleh sang anak.

Pernikahan juga bukan sebuah relasi. Relasi adalah keberadaan dua individu yang tetap sebagai individu, sementara seperti tadi kupaparkan di atas, pernikahan adalah peleburan dua individu menjadi satu, secara spiritual. Saat kita mengorbankan diri dalam pernikahan, pengorbanan tersebut bukanlah pengorbanan atas pasangan kita, melainkan pengorbanan demi kesatuan. Citra Cina atas Tao, dengan gelap dan terang berinteraksi—itulah kesatuan dari yin dan yang, satu yang tak dapat menjadi utuh tanpa lainnya, bagiku itulah arti pernikahan.

Pernikahan, adalah transendensi. Sementara affair cinta, adalah relasi. Pernikahan, adalah pengalaman spiritual. Sementara pernikahan di bawah dunia modern, adalah konstruksi sosial. Apabila yang kita kehendaki adalah transendensi, maka pengalaman tersebut tidak selalu perlu untuk hadir sebagai sebuah pernikahan legal di bawah dunia modern. Di titik ini, aku bergabung dengan Emma Goldman, atau juga Friedrich Engels yang melihat keluarga sebagai bagian terkecil dari struktur hirarki kekuasaan sosial.


Sabtu, 14 September 2013

Alienasi Posmodern, Destruksi Diri, Revolusi, dan Fight Club (Part.3)



- “It's only after you've lost everything that you're free to do anything.”

- "You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fucking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world."

- "People do it everyday. They talk to themselves. They see themselves as they'd like to be. They don't have the courage you have, to just run with it."

- "I say never be complete, I say stop being perfect, I say let... lets evolve, let the chips fall where they may." 

- "First you have to give up, first you have to know... not fear... know... that someday you're gonna die."

(Tyler Durden,Fight Club)

 Kelahiran Project Mayhem, “Tujuan Project Mayhem adalah penghancuran yang langsung dan komplit atas peradaban.” Mereka mulai membiarkan orang-orang dari Fight Club tinggal bersama mereka, setiap orang membawa seminimal mungkin perlengkapan untuk bertahan hidup. Tyler menyebut mereka sebagai “space monkeys”, sebagaimana monyet-monyet yang dijadikan bahan penelitian NASA, diluncurkan pertama kalinya ke luar angkasa, ke daerah-daerah yang belum tereksplorasi oleh manusia, monyet-monyet yang dikorbankan untuk kepentingan tujuan manusia yang lebih besar. Tyler menerangkan kepada mereka semua segala yang ia ketahui dalam soal kimia: bagaimana membuat napalm dan peledak dari sabun. Vandalisme merebak di kota-kota, dan semuanya dilakukan dengan semangat permainan yang tinggi, sebagaimana yang terlihat saat dilakukan peledakan dua buah ruang apartemen sebuah gedung, hal tersebut dibuat menjadi tampak seperti logo smiley face. Polisi mulai menyelidiki dan berniat menutup klub tersebut yang menurut kabar terlibat dalam sebuah gelombang aksi terorisme, tetapi hal tersebut dengan segera dihentikan saat Tyler dan sebagian kecil kelompoknya mengancam kepala kepolisian untuk menghentikan aksinya atau kemaluannya akan dikastrasi. Ini adalah sebuah simbol, dimana para anggota Fight Club tersebut mengancam untuk mengambil sesuatu yang secara implisit menjadi simbol otoritas kelelakian, dimana sang kepala polisi tidak mau membiarkannya terjadi. Salah seorang dari grup yang dibentuk oleh Tyler, yang secara eksplisit menyiratkan ketampanan, dipukuli oleh sang narator dalam sebuah perkelahian, penghancuran sebuah wajah yang indah. Ini juga menyiratkan secara simbolik tentang bagaimana kita kemuakan kita akan masyarakat membuat kita ingin menghancurkan apapun yang olehnya dianggap sebagai sesuatu yang bagus dan indah. Tidak lama setelah itu terjadi, narator menjadi seseorang yang justru tidak menjadi bagian di dalam Project Mayhem itu sendiri.

Saat sahabat sang narator, Bob, meninggal karena ditembak tepat di kepala oleh seorang polisi saat ia sedang menjalankan aksinya, sang narator mulai memberontak terhadap Tyler, justru bersamaan dengan saat dimana Tyler seakan menghilang dari muka bumi. Sang narator akhirnya justru melakukan apa yang didorong untuk lakukan oleh Tyler: hit the bottom. Atau dapat kita katakan sebagai “poin yang tak memiliki titik balik”, sebagaimana lalu dikatakan oleh sang narator, “Aku memang tolol, dan apapun yang kulakukan adalah sekedar menginginkan sesuatu dan membutuhkan sesuatu.” Dalam point terendahnya, sang narator mulai menyadari gambaran keseluruhan: bahwa ia adalah Tyler Durden. Tyler adalah personalitas disasosiatif yang dibawa oleh insomnia yang diderita oleh sang narator, kebencian akan kehidupan komersialnya dan hasrat terpendamnya atas Marla, yang juga menggaris bawahi keseluruhan kisah, kini mulai terkuak ke permukaan. Dalam dunia nyata, Tyler adalah bagian dari setiap diri kita yang tak puas saat memandang iklan di televisi, dan diatur untuk melakukan apa yang sebenarnya bukan keinginan kita. Ia hadir dalam setiap billboard yang kita pandang, setiap titik air mata yang menetes atas kesepian yang mendera, dan setiap impuls yang muncul saat kita berpikir bahwa kapitalisme bukanlah jawaban bagi kehidupan spiritual kita. Ia adalah setiap diri kita yang tak puas saat melihat mobil-mobil mewah berseliweran di jalanan, atau melihat para idiot dengan kunci mobil tergantung di saku belakang celananya, beruaha menikmati makanan di restauran termahal. Ia adalah setiap diri kita yang mulai percaya bahwa kita tak akan dapat menjadi bintang, yang membenci pekerjaan kita, yang benci menjadi pelayan bagi orang lain. Sang narator akhirnya berusaha untuk mengakhiri Project Mayhem dengan kekuatannya, tapi Tyler telah memprediksikan semuanya. Yang pada akhir kisah, Project Mayhem berencana untuk meledakkan setiap gedung yang menyimpan data kartu kredit di negara itu. Dan pada akhir film, kita kembali ke awal dimana sang narator terduduk di kursi dan sepucuk pistol diacungkan ke hadapannya, memaksanya untuk menyimak sebuah awal dari revolusi. Hanya dengan merealisasikan bahwa imaji Tyler bukanlah sesuatu yang nyata, maka ia dapat mengalahkan Tyler. Pada akhirnya, sang narator meledakkan pistol di mulutnya sendiri dalam usahanya untuk membunuh Tyler, melepaskan Tyler dari dirinya.

Tapi sang narator tidak mati, peluru tertembakkan menembus pipinya, sementara Tyler menemui ajalnya. Sang narator berkata, “Kadang engkau harus hit the bottom untuk membuat dirimu lebih baik.” Baginya diperlukan sebuah ledakan pistol di mulutnya untuk membuatnya sungguh-sungguh menemukan sebuah poin yang tak memiliki titik balik, dan saat ia melakukannya, seluruh dunia di sekelilingnyapun menjadi tampak lebih baik, sebagaimana yang ia impikan. Bom-bom mulai meledak, gedung-gedung penyimpan data kartu kredit runtuh, dan “Segalanya akan baik-baik saja.”

Banyak orang yang menonton film ini akan berkata bahwa tak seorangpun yang merasakan hal seperti yang dirasakan oleh para pemain di film ini. Kalau demikian, maka aku, kami disini, adalah orang-orang pertama yang akan mengacungkan tangan tanda keberatan. Sebagaimana yang telah kukatakan di awal, bahwa subyek alienasi dalam realitas seseorang seringkali menuju pada destruksi diri, karena hanya itulah yang dapat dilakukan seseorang dalam isolasinya. Dalam isolasi di penjara yang tak nampak seperti ini, banyak dari kita yang merasa terperangkap dalam dunia yang hanya mengenal jual beli, dunia pasar. Lalu mengapa beberapa orang gatal untuk melakukan sebuah revolusi seperti yang dilakukan orang-orang dalam film ini? Karena kapitalisme telah memberikan kita segalanya, tetapi mereka mengambil sisi sosial dalam diri kita, dan meninggalkan kita dalam kesendirian, walaupun kita berada di tengah kerumunan. Tidak seorangpun pernah merasakan hal ini? Baik. Tapi coba tanyakan pada ibu-ibu muda yang semenjak menikah tertimpa peran sebagai seorang “ibu rumah tangga”, yang melampiaskan kesepiannya dengan menonton telenovela, facebookan, berbelanja atau saling bertukar gosip. Tanyakan pada para suami mereka yang harus seharian bekerja di ruang-ruang sempit, dan pulang dalam keadaan lelah, beristirahat, hanya untuk kembali ke ruang-ruang tersebut keesokan harinya. Tanyakan pada seorang anak yang tak mampu menemukan seorangpun di rumahnya, mendengarkan keinginannya. Kami tahu seluruh generasi yang merasakan hal seperti ini. Kritik yang dilontarkan dalam film ini seakan bagi banyak dari kita menyatakan kalau orang-orang tersebut “sakit”. Baik. Tapi siapa yang membuat mereka–atau kita–semua merasakan hal tersebut? Ingat ucapan Tyler, “Aku adalah tanggung jawabmu.” Masalahnya mungkin banyak dari kita yang masih selalu berpikir bahwa apapun yang kita lakukan selama tak bersinggungan langsung dengan orang lain, merasa bahwa apapun yang kita lakukan tersebut tak memiliki kaitan dengan orang lain. Kita selalu berpikir bahwa hidup kita tak saling berkaitan, bahwa semua orang dapat hidup hanya dengan dirinya sendiri. Tapi sadarkah kita, bahwa perasaan kita itu sendiri yang menjadi bukti bahwa kita ada dalam sebuah isolasi? Bahwa kita tak pernah bersinggungan dengan orang lain? Dan bukankah kita sering merasa kesepian dalam keadaan yang kita jalani ini? Dan hal ini juga sudah dikatakan oleh Tyler, “Kita memiliki depresi terbesar dalam hidup kita sendiri. Kita memiliki sebuah depresi spiritual."



Jumat, 13 September 2013

Makrifat Syeh Siti Jenar "Manunggaling Kawula Gusti"



“Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri tidak lagi dipandang.
Papan tulis dan tulisan sudah lebur, dualitas tak ada lagi.
Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang?
Tak ada lagi sesuatu.
Maklumilah ini baik-baik, Adinda. Inilah penyembahan sempurna.
Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan, kau baru mewakili pengetahuan yang kurang sempurna. 
Jangan tersenyum bila kau belum mengentahui ilmu sejati.
Jangan merasa senang menerima ajaran dan instruksi.
Itu semua hanya berupa tutur kata.
Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkapkan dengan katakata.
Hanya keheningan yang tetap berharga. Keheningan berarti, jangan mengikuti Kitab Suci...”

-Petilan dari puisi Dandang Gula, Manunggaling Kawula Gusti,
Rama Zoetmulder S.J.

Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.

Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.

Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut;



Tentang Ketuhanan



M (murid)       ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”

S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.



M         ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”

S         ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.



M         ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?

S         ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.



M         ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?

S         ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.



M         ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?

S         ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada  yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.



M         ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?

S         ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.



M         ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?

S         ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!



M         ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?

S         ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.



M         ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?

S         ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.



M         ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?

S         ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.



M         ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?

S         ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.



M         ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?

S         ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.



M         ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?

S         ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.



M         ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci ?

S         ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang.  Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.



M         ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.

S         ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.



M         ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?

S         ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah.  Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.



M         ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?

S         ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.



M         ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?

S         ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.



M         ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?

S         ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam.  Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.



M         ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?

S         ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang  sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.



M         ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan  sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?

S         ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.



M         ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?

S         ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi,  jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia.  Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.



M         ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?

S         ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.



M         ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?

S         ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.



M         ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?

S         ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.



M         ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?

S         ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.



M         ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?

S         ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.



M         ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?

S         ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian.  Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas,  maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.



M         ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?

S         ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.



M         ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?

S         ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.



M         ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?

S         ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !



M         ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?

S         ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.



M         ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?

S         ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.



M         ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?

S         ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.



M  ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.

S         ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.



M         ; Maaf saya belum paham Syekh.

S         ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka  berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.



M         ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?

S         ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya. 


 Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam,  sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.



Sumber: sabdalangit.wordpress.com


Alienasi Posmodern, Destruksi Diri, Revolusi, dan Fight Club (Part.2)


- "You have to consider the possibility that God does not like you, never wanted you, in all probability he hates you. It's not the worst thing that could happen.”

- “Without pain, without sacrifice, we would have nothing.”

-  “We're the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We've all been raised on television to believe that one day we'd all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won't. ”

- "Listen up, maggots. You are not special. You are not a beautiful or unique snowflake. You're the same decaying organic matter as everything else."

 (Tyler Durden, Fight Club)

Fight Club adalah juga tentang apa arti menjadi seorang lelaki yang melayani orang lain (sebagaimana kalau secara tradisional menjadi bagian perempuan) dan bagaimana beberapa orang laki-laki mengkonstruksi sendiri identitas dan arti dalam hidupnya. Bagaimana sekarang telah tak ada lagi batasan gender dalam menentukan bidang pekerjaan memang menjadi fakta yang melatar belakanginya, tapi film ini justru mengeksplorasi maskulinitas dari sisi lain. Ada sebuah scene penting dimana sang narator dan Tyler saling berbagi tentang bagaimana ayah mereka terasa jauh dan meninggalkan mereka. Ayah sang narator pergi meninggalkannya saat ia masih berusia sangat muda, menikahi perempuan lain dan memiliki anak darinya, dan hal tersebut diulanginya beberapa kali seperti sebuah franchise. Sementara menurut Tyler ayahnya tak pernah mampu memberikan jawaban atas serial pertanyaan seperti, “sekarang apa?” dan hanya pada akhirnya menyarankan untuk hidup seperti orang-orang lainnya. Di beberapa scene kemudian, saat Tyler menjadikan sang narator sebagai subyek pembakaran cairan kimia di tangannya, Tyler menanyakan satu hal kepada sang narator, “Bagaimana kalau Tuhan tidak menginginkanmu? Bagaimana kalau engkau adalah salah satu anak-anak yang tidak diinginkannya?” Disinilah poin jawaban dimana sebelumnya Tyler pernah menyatakan bahwa ayah adalah representasi Tuhan baginya, dan kini adalah bagaimana caranya hidup dalam kondisi tidak diinginkan oleh siapapun. Hal ini terngiang-ngiang kembali saat kepribadian Tyler nanti meninggalkan sang narator, dan sang narator bergumam, “Ayahku membuangku. Tyler membuangku.”

Potensi lain yang menyoroti masalah maskulinitas, dimana identitas lelaki secara kontras (dan berpotensi menjadi sebuah harmoni) dengan perempuan sebagai partner hidup. Tyler berkata kepada sang narator, “Kita adalah generasi laki-laki yang dibesarkan oleh perempuan. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa perempuan adalah jawaban?” Dalam prospek pernikahan, dalam respon hipotetis atas pertanyaan Tyler “Sudah ini lalu apa?”, sang narator bergumam, “Bagaimana aku akan menikah? Aku lelaki berusia 30 tahun.” Tidak hanya sampai merasa bahwa Tyler adalah ancaman untuk Marla, sang narator mengambil langkah untuk melindunginya. Dan dalam momen terakhir film ini, ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari hubungan antara Tyler dan Marla. Dan sebagai penjelasan, ia hanya berkata kepada Marla, “Engkau telah bertemu denganku dalam waktu yang paling aneh dalam hidupku.”

Masih berbicara mengenai konteks laki-laki dan perempuan dalam film ini, Marla adalah representasi ekstrim dari kecemasan perempuan-perempuan modern seiring dengan bertambahnya waktu, yang hanya menemui bahwa opsi-opsi hidup bagi mereka semakin sedikit. Rasanya tak adil apabila menyebut hubungan antara Tyler dan Marla sebagai sebuah hubungan cinta semenjak hubungan tersebut hanyalah sebatas seks, sesuatu yang oleh masyarakat kita rindukan sekaligus dikutuk seiring dengan meningkatnya kehamilan dini dan AIDS. (Walaupun kita juga tidak bisa menyebut film ini sebagai film yang seksual).

Kembali kepada scene saat Fight Club mulai menguat, tak lama kita akan menemukan bagaimana sang narator dan Tyler dengan menggunakan tongkat baseball menghancurkan mobil-mobil di pinggir jalan, mobil-mobil yang tak akan pernah mereka miliki. Mereka juga mencuri lemak-lemak dari sebuah klinik sedot lemak, dimana hanya orang-orang kayalah yang mampu membayar operasi tersebut. Tyler dan sang narator mencuri lemak ini dan mengolahnya menjadi sabun, yang dengan kata lain mereka menjual kembali kepada orang-orang kaya tersebut sesuatu untuk membersihkan diri mereka sendiri. 

Segera, Fight Club membesar lebih daripada yang dibayangkan oleh sang narator sebelumnya dan menjadikan Tyler Durden sebagai legenda. Narator juga kemudian berkata bahwa Fight Club tak cukup lagi memadai. Sebagai responnya, Tyler memutuskan, “Ini saatnya untuk mengeksplorasi taktik.” Dalam poin ini, narator mengungkapkan kebenciannya tentang bagaimana generasi kita harus membersihkan bumi setelah generasi lain mengotorinya dan menuntut kita untuk membayarnya. Dalam buku, Tyler berkata, “Program daur-ulang dan pembatasan kecepatan adalah sebuah kebohongan belaka. Hal tersebut cuma seperti orang-orang yang berhenti merokok saat kematian sudah begitu dekat.”

Kejadian tersebut juga ditandai oleh keputusan sang narator untuk keluar dari pekerjaannya. Sebelum ia mengancam bossnya untuk memberinya gaji tetap walaupun tak perlu bekerja lagi di perusahaan tersebut hanya dengan bargain bahwa ia dapat membocorkan malpraktek perusahaan, sang narator mengirimkan e-mail berisi haiku kepada beberapa rekan kerjanya, yang berisi:

The worker bees can leave
The drones can fly away
The queen is their slave

Implikasinya adalah bahwa mereka, orang-orang yang berada di kelas atas dalam masyarakat adalah justru budak-budak bagi mereka yang termasuk dalam kelas pelayan, dimana Tyler, sang narator dan mereka para pengikutnya adalah bagian di dalamnya. Menarik, karena ada sebuah novel berjudul Alias Grace, karya Margaret Atwood, juga pernah menyoroti masalah ini sebelumnya. Dalam novel tersebut diungkapkan sebuah ide dimana kelas atas adalah justru mereka yang kekanak-kanakkan, tidak mandiri dan lemah. Tanpa kelas lain yang melayaninya, mereka justru akan seperti seorang anak kecil yang belum mampu berjalan yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Ada sebuah kecenderungan penghinaan terhadap mereka yang kelas sosialnya lebih tinggi dan di saat yang sama adalah sebuah pembenaran atas tindak parasitisme terhadap mereka. Ini juga dikatakan oleh Tyler saat ia membuat sabun dari lemak para perempuan kaya dan menjualnya kembali di toko-toko yang “chic”. Ia memberi penekanan pada “menjual kembali lemak mereka pada para perempuan kaya.”

Part 1 

Part 3





Kamis, 12 September 2013

Alienasi Posmodern, Destruksi Diri, Revolusi, dan Fight Club (Part.1)



- "We cook your food; we haul your trash; we place your calls; we guard you while you are sleeping. Do not fuck with us.”

- “You are not the things you own. The things you own will end up owning you.”

- "Do you know what a duvet is? It's a blanket. Just a blanket. Now why do guys like you and me know what a duvet is? Is this essential to our survival, in the hunter-gatherer sense of the word? No. What are we then? Right. We are consumers. We're the bi-products of a lifestyle obsession."

- "Self improvement is masturbation. Now self destruction..."

(Tyler Durden, Fight Club)


Mungkin pengembangan diri bukan jawaban.Mungkin justru destruksi diri jawabannya,” kata Brad Pitt dalam film Fight Club. Alienasi, destruksi diri dan revolusi telah menjerat dengan ketat beberapa waktu lamanya di dunia modern ini. Seseorang cukup hanya dengan membeli “Nevermind The Bollocks Here's The Sex Pistols” dan ia telah mabuk dalam anarki. Sid Vicious, anggota Sex Pistols, menghancurkan dirinya dengan obat-obatan. Johnny Rotten, vokalisnya, mempromosikan revolusi dengan musiknya, dengan lagunya seperti “Anarchy in the UK” dan “God Save the Queen”. Ia menulis, “When there's no future, how can there be sin, we're the flowers in the dust bin, we're the poison in the human machine. We're the future. Your future. God save the Queen”. Ini benar-benar ide yang sama yang mendasari dan ingin diekspresikan dalam film (dan buku) Fight Club, yang dibintangi oleh Brad Pitt, Edward Norton dan Helena Bonham Carter. Ia adalah ketergesaan skizofrenik yang meninggalkanmu dalam keadaan sesak saat segalanya telah berakhir. Ini adalah film tentang bagaimana kapitalisme dan konsumerisme telah meninggalkan para pekerja hariannya dalam ilusi-ilusi industri. Narator dalam kisah ini tidak memiliki nama sepanjang filmnya. Kita bertemu dengan narator dan seseorang yang sedang menodongkan pistol ke mulut sang narator. Narator tersebut mulai untuk mengisahkan hidupnya tentang bagaimana ia kini berada di tempat seperti saat film dimulai. 

Narator memulai segalanya dari kondisinya yang insomnia. Ada sebuah gambaran besar dari narator bahwa insomnia membuat seluruh dunia terasa jauh. Sang narator bekerja dalam sebuah pekerjaan yang buntu. Ia jelas merupakan tipikal seseorang yang lulus dari universitas dan tak tahu apa yang ia inginkan yang pada akhirnya berakhir di ujung dunia posindustrial yang kota asalnya, ia bertemu dengan Tyler Durden, seorang penjual sabun yang menunjukkan bahwa di pamflet kecil yang selalu terdapat di bangku penumpang, “In Case of an Emergency”, semuanya menggambarkan orang-orang tentang bagaimana menghadapi kematian dengan sabar, tanpa ekspresi wajah dan malah nyaris tersenyum. Narator tertarik sekali dengan hal ini. Hal ini memperlihatkan masyarakat kita, bagaimana dalam kondisi krisis, lebih diarahkan untuk dibuat bagaimana caranya agar tidak panik, bukannya memfokuskan pada bagaimana caranya menyelamatkan hidup itu sendiri. Disini juga ditekankan sebagai sebuah parodi tentang bagaimana dalam masyarakat kita, hidup menjadi sesuatu yang tak penting, sebagai sesuatu yang tak perlu diresapi. Salah satunya adalah dengan cara menyepelekan kematian.

Ada sebuah sisi yang tak kalah menarik dari pemilihan kata Tyler Durden itu sendiri–yang terepresentasikan sebagai potongan kepribadian sang narator, dan manifestasi dari pemenuhan harapannya. Dalam bahasa Inggris kuno, “Tyler” berarti penjaga gerbang atau bisa juga pembangun rumah. “Durden” memiliki akar kata yang berarti keras, teguh (sebagaimana juga dalam kata “durable”). Inisialnya, menjadi T.D, yang menyatakan Todd atau kematian dalam bahasa Jerman, dan apabila menggunakan penyusunan nama versi Inggris, menjadi D.T (delirium tremens), semenjak Tyler adalah halusinasi dari sang narator. Dalam kamus psikologi, sang narator, yang dirinya seakan dibangkitkan, ia memiliki kepribadian ganda yang masalahnya adalah dimana ia menjadi semakin melemah sementara Tyler semakin dominan akibat dorongan bawah sadarnya yang mendambakan dirinya sebagai seseorang yang mampu melepaskan dirinya dari derita alienasi yang seakan tak kuasa ia hadapi.

Tyler adalah teroris amatir yang memiliki tiga pekerjaan. Satu adalah sebagai seorang operator proyektor, dimana pekerjaannya adalah menyambung-nyambungkan reel film. Pekerjaan lainnya adalah sebagai seorang waiter di sebuah restauran yang cukup ternama. Ia menyisipkan gambar-gambar penis dan vagina ke dalam film-film seperti Bambi dan mengencingi sop-sop yang akan dimakan oleh orang-orang kelas atas yang selalu memperlakukannya seperti kotoran di restauran. Tyler juga adalah seorang penjual sabun yang cukup sukses, bahan dasar yang juga ia dapat gunakan sebagai peledak.

Berbicara mengenai keusilan Tyler dalam menyelipkan potongan film porno dalam film keluarga, apabila kita teliti, ternyata hal tersebut tidak hanya dilakukan dalam cerita tetapi juga dalam film itu sendiri. Tyler sebenarnya telah hadir sebagai sebuah sosok karakter di awal-awal sang narator belum bertemu Tyler. Ia muncul dalam frame-frame satuan yang disisipkan dalam keseluruhan film ini, jadi memang agak sulit menyadari bahwa sudah sejak sang narator berkisah mengenai insomnianya, Tyler telah muncul.

Setiap aksi yang dilakukan oleh Tyler memiliki implikasi dalam skala besar, sebuah pemberontakan melawan standar nilai masyarakat. Dalam buku Fight Club yang ditulis oleh Chuck Palahniuk pada tahun 1996, Tyler berkata, “Bagimu dan juga bagi dunia ini, aku adalah sampah, kotoran dan kegilaan. Engkau tak peduli dimana aku hidup dan bagaimana perasaanku, atau apa yang kumakan atau bagaimana aku memberi makan anak-anakku atau bagaimana aku membayar dokter apabila aku sakit, dan ya, aku bodoh dan membosankan dan lemah, tetapi aku adalah bagian dari tanggung jawabmu.” 

Sebelumnya, kita para audiens, sampai pada scene dalam pesawat terbang, sang narator berkata sesuatu yang sangat mendalam, “Orang-orang yang kukenal yang seharusnya duduk di kamar mandi dan membaca pornografi, sekarang mereka duduk di kamar mandi dengan katalog furnitur IKEA mereka.” Kamera kemudian memfokuskan pada setumpuk majalah, sebuah majalah Playboy yang tertutup oleh katalog Sears. Konsumerisme telah mengambil alih hidup seluruh generasi. Bisnis besar telah menghentikan kita semua sepanjang hidup kita dari pengenalan akan kenikmatan. Ada sebuah metafora disini. Setelah pertemuan dengan Tyler, sang narator mendapati apartemennya meledak, dan satu-satunya yang ia pikir dapat hubungi hanyalah Tyler. Sang narator menelefon Tyler di box telefon sesaat setelah apartemennya meledak, dengan seluruh milik pribadinya hancur. Lalu saat bertemu Tyler Durden, membahas mengenai mapartemennya yang hancur, Tyler hanya berkata, “Kadang sesuatu yang engkau miliki akan berbalik memilikimu.” 

Kemudian dalam film sang narator dan Tyler sedikit mabuk akibat minum di bar, dan di pintu keluar Tyler menawari tempat untuk tinggal pada sang narator, tetapi ia meminta sesuatu, “Aku ingin engkau memukulku sekeras yang engkau mampu”. Maka mereka terlibat dalam sebuah perkelahian dan oleh karena satu dan lain sebab, mereka menikmatinya. Banyak para audiens yang akan kebingungan melihat bagaimana bisa mereka mendapat kenikmatan dari hal seperti itu. Jawabannya adalah karena kini mereka telah menempatkan diri dalam jalur destruksi diri, kehilangan kepemilikan material dan identitas yang mengerikan. Alasan bagi destruksi dirinya adalah bahwa mereka menghancurkan hidup yang mereka miliki setiap hari hanya demi sesuatu yang dianggap lebih besar. Mereka membagi perasaan tersebut saat berkelahi; mereka telah menjadi dewa atas hidup mereka sendiri. Mereka memiliki kontrol yang tak pernah mereka miliki sebelumnya. Lalu beberapa orang melihat mereka dan kemudian bergabung. Hal kemudian yang kita semua tahu adalah bahwa mulai terbentuk sebuah klub berkelahi ilegal. Inilah Fight Club. Tyler menyusun aturan-aturan bagi klub tersebut, saat semakin banyak orang yang hadir setiap minggunya. Tyler menampilkan dirinya sebagai seorang yang telah banyak mengerti segala hal, berbagai versi dalam Buddhisme, kultur masa lalu, filsafat dan terlebih lagi bidang kimia.

Jurnal Apokalips


 

Jumat, 06 September 2013

Garis Akhir





Should I stay or should I go?
 If I go there will be trouble 
and if I stay it will be double


Saat engkau telah memberikan semua yang engkau miliki, tetapi seakan tak mendapatkan apapun selain lebih banyak lagi permintaan untuk kau penuhi. Saat engkau merasa bahwa sesungguhnya dirimu tak penting lagi, tak dibutuhkan lagi, tak diinginkan lagi, tak dipedulikan lagi. Saat pada akhirnya engkau telah melihat batasmu mulai hadir di horizon senjakalamu. Dan hal itu seperti saklar yang di-klik dalam kepalamu.

Dan engkau tak akan peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukankah itu adalah saat engkau untuk pada akhirnya berkata, cukup? Aku tahu, masa itu akan datang di tiap-tiap orang. Orang seperti dirimu. Seperti juga diriku.

Kamis, 05 September 2013

Eksistensi Itu Bayar


 "the things you own end up owning you" - tyler durden

 
Tanpa Relaxa, maka nafasmu bau dan tak seorangpun ingin berciuman denganmu…

Tanpa Axe, tak seorang pun ingin menyentuh atau berdekatan denganmu…

Tanpa Revlon dibibirmu, tak ada lelaki yang akan melirikmu…

Tanpa sepatu Nike, kau tak akan berolahraga dengan baik…

Oiya, kau pasti mahkluk rendahan yang tak peduli lingkungan karena kosmetikmu bukan produk Body Shop…

Tanpa Sampoerna Hijau, kau tak akan mendapat keasyikan bersama kawanmu…

Tanpa Surf, bajumu dianggap tak bersih…

Tanpa Superpel, tak ada orang yang ingin menginjak lantai rumahmu…

Tanpa furniture Ikea, tak ada yang mau makan di meja makanmu…

Tanpa Smart Phone Blackberry , tak seorangpun mau berkawan denganmu…

Anak-anakmu tak akan mendapatkan pendidikan yang baik kecuali engkau membelikan mereka mainan edukatif yang mahal…

Tanpa paket ONH Plus, engkau belum menunaikan ibadah haji secara sempurna…

Kekasihmu tak akan mau kencan denganmu lagi bila engkau tak membawa menonton film Holywood terbaru di Blitz Megaplex atau Studio 21, itupun harus ditutup dengan makan bersama di McD dan Starbuck. Lagipula, bagaimana kalian akan kencan kalau motor-matic terbarupun dirimu tak punya dan hanya mengandalkan angkutan kota…???

Renungkan seluruh aktivitasmu dan kau akan menyadari satu hal: kau tak akan dapat bersenang-senang kecuali kau mampu membayarnya…

Sumber Jurnal Alpokalips, Bandung

Rabu, 04 September 2013

Friedrich Wilhelm Nietzsche: Gott ist tot "Tuhan Telah Mati"



Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di Rocken, wilayah Sachsen pada tanggal 15 Oktober 1844. Dia lahir dari sebuah keluarga Protestan Lutheran yang saleh.  Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran yang meninggal pada saat dia berumur 5 tahun. Dan dia sendiri diproyeksikan mengikuti jejak ayah, paman dan kakeknya untuk menjadi pendeta.

Pada tahun 1854, Nietzsche masuk Gymnasium di kota Naumburg, namun empat tahun kmudian ibunya memintanya belajar di sebuah sekolah asrama Lutheran di kota Pforta. Di sanalah dia membaca karya banyak sastrawan dan pemikir besar. Selain itu dia juga tertarik dengan kebudayaan Yunani Kuno.

Dia meneruskan studinya di Universitas Bonn pada tahun 1864 bersama teman-temannya dari Pforta. Tahun 1965, dia belajar filologi di Leipzig. Studinya tersebut kemudian terputus ketika pada tahun 1867, dia diminta untuk menunaikan wajib militer. Lalu, karena jatuh dari kudanya dan terluka, dia kembali lagi ke Leipzig dan belajar lagi. Pada inilah dia berteman dengan Richard Wagner, komponis Jerman yang nantinya akan berpengaruh banyak pada kehidupan Nietzsche. Persahabatan itulah yang kemudian berpengaruh pada periode pertama riwayat intelektualnya. Pada periode itu, bersama temannya dia berkutat pada pemikiran mengenai kelahiran kembali seni Yunani Kuno.

Sekitar tahun 1869, dia menjadi dosen di Universitas Basel. Waktu itu usianya baru 24 tahun dan belum meraih gelar doktor. Dia memilih untuk menjadi seorang ateis. Di masa itu jugalah hubungan dengan Wagner semakin memburuk. Dia merasa diperalat demi kemahsyuran Wagner. Terlebih karena Wagner kemudian menjadi Kristen. Kemudian dimulailah periode intelektual Nietzsche yang kedua. Periode ini menghasilkan beberapa karya.

Yang disebut periode ketiga adalah di mana ketika Nietzsche menemukan kemandiriannya dalam berfilsafat. Selama periode inilah, dia sakit-sakitan dan kesepian. Dia mengalami ketegangan mental. Nietzsche terobsesi untuk selalu menyanjung dirinya. Pada bulan Januari 1889, Nietzsche menjadi gila. Dia banyak mengaku sebagai orang-orang terkenal dari Ferdinand De Lesseps, arsitek terusan Suez, sampai bahkan mengaku sebagai “yang tersalib”. Dia meninggal dunia di dalam kesepiannya di Weimar pada tanggal 25 Agustus 1900 karena Pneumonia.

Nietzsche Sang Pembunuh Tuhan

Nietzsche adalah filsuf unik yang berpikir secara unik dan menyampaikannya secara unik pula. Keunikannyalah yang membuat dia menjadi begitu istimewa bagi dunia filsafat. Pemikirannya tak pernah dapat dilepaskan dari latar belakang kehidupannya. Bahkan, tanpa ragu-ragu dia banyak bercerita tentang kehidupannya di dalam tulisannya. Selain itu, cara penyampaian filsafatnya yang menggunakan teknik sastra menjadi hal yang baru di dalam dunia filsafat yang selama ini selalu memakai obyektivitas dan kebakuann bahasa sebagai hal yang utama. Bagi Nietzsche kebenaran yang bersifat jamak hanya bisa tersampaikan lewat sastra. Artinya, penafsiran akan suatu kebenaran akan selalu plural tidak pernah tunggal.

pemikiran Nietzsche mengenai kematian Tuhan sendiri terdapat pada sebagian karya-karyanya. Salah satu tulisannya yang terkenal mengenai hal itu terdapat pada bukunya, the  gay science (ilmu kebahagiaan). Di dalam ceritanya, seseorang yang gila datang ke sebuah kerumunan dan berteriak-teriak mengenai kematian Tuhan.

Tidakkah kamu telah mendengar seorang gila yang menyalakan lentera di pagi hari yang cerah, berlari menuju tempat kerumunan, dan terus-menerus berteriak: “ Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” – Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan berdiri di sekelilingnya kemudian, dia mengundang gelak tawa. Apakah dia orang yang hilang? Tanya seseorang. Apakah dia telah tersesat seperti anak kecil? Tanya yang lainnya. Atau dia sedang bersembunyi? Apakah dia takut pada kita? Apakah dia orang yang baru saja mengadakan pelayaran? Seorang perantau? — Maka mereka saling bertanya sinis dan tertawa.

            Orang gila itu melompat ke tengah kerumunan dan menatap mereka dengan mata tajam. “Ke mana Tuhan?” dia berteriak: “Aku akan menceritakan pada kalian, Kita telah MembunuhNya — Kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya… Tuhan sudah mati. Tuhan terus mati…”

            … “aku telah datang terlalu awal.” Dia kemudian mengatakan: “waktuku belum datang. Peristiwa besar ini masuh terus berjalan, masih berkeliaran; ini belum mencapai telinga-teling manusia…”

            Telah diceritakan lebih lanjut pada hari yang sama orang gila itu memaksa masuk ke dalam beberapa gereja dan di sana menyanyikan requiem aeternam Deo….

Amat penting untuk disampaikan di sini tentang pemikiran dasar Nietzsche mengenai Tuhan. Nietzsche memahami Tuhan seperti mimpi. Ketika kita tidur dan bermimpi, kita seperti berada di dalam dunia nyata yang ternyata hanya mimpi. Seperti demikianlah mengenai Tuhan. Manusia tidak mampu membedakan antara kenyataan yang sebenarnya dengan kenyataan yang hanya merupakan bayang-bayang. Jika dicoba untuk mengartikannya, Nietzsche menganggap Tuhan hanya proyeksi dari keterbatasan manusia yang merindukan sebuah kekuatan yang tidak terbatas.

Arti Kematian Tuhan

Tuhan sudah mati, demikian ungkapan Nietzsche yang terkenal. Dengan diberikannya konsep “mati” di dalam Tuhan, Nietzsche ingin mengatakan bahwa keberadaan Tuhan tergantung pada sintetis. Tuhan menjadi argumen yang dapat dipertanggungjawabkan hanya terkait dengan waktu, menjadi, sejarah, dan manusia. Oleh sebab itulah, Nietzsche memberikan konsep kematian di dalam argumennya tentang Tuhan.

Dengan kematian Tuhan, Nietzsche kemudian mengajukan konsep kelahiran Tuhan baru. Jika Tuhan mati, manusialah yang menjadi Tuhan. Yesus adalah kurban yang harus mati di kayu salib. Kematian yang kemudian disamarkan menjadi sebuah kepercayaan saleh akan cinta Tuhan. Tuhan mengorbankan Yesus demi terbebas dari diriNya sendiri dan orang Yahudi. Tuhan perlu membunuh putraNya untuk terbebas dari diriNya sendiri dan lahir kembali menjadi Tuhan baru yang universal. Demikianlah arti kematian Tuhan yang pertama.

Yang kedua, kesadaran Yahudi  menginginkan Tuhan yang lebih universal. Dengan matinya Tuhan di kayu salib, Tuhan tidak tampak lagi keyahudiannya. Yahudi lebih memilih menciptakan Tuhan yang penuh kasih dan rela menderita karena kebencian. Dengan nilai kasih yang lebih universal, Tuhan Yahudi telah menjadi Tuhan universal. Tuhan yang lama mati dan Putera menciptakan Tuhan baru bagi kita yang penuh kasih.

Arti ketiga dari kematian Tuhan berkaitan dengan agama Kristiani. Nietzsche mengartikan lain teologi St. Paulus. Teologi Paulus yang banyak dijadikan dasar ajaran kristiani adalah pemalsuan besar-besaran. Dikatakan demikian karena Kematian Putera adalah untuk membayar hutang Tuhan. Nietzsche melihat terlalu besar hutangNya. Tetapi kemudian, Tuhan mengorbankan PuteraNya bukan lagi untuk membebaskan diriNya melainkan demi manusia. Tuhan mengirimkan PuteraNya untuk mati karena cinta, kita menanggapinya dengan perasaan bersalah, bersalah atas kematian tersebut dan menebusnya dengan menyalahkan diri sendiri. Demikianlah kemudian Nietzsche menyebut kita semua sebagai pembunuh Tuhan dengan semua kedosaan kita.

Inilah moralitas budak yang dikritik Nietzsche. Budak bertindak bukan atas dasar dirinya sendiri melainkan ketakutan akan tuannya. Tindakannya selalu didasarkan pada perintah tuannya. Bertindak sendiri akan menyangkal kodratnya dan dianggap sebagai kesalahan. Berbeda dengan moralitas budak, moralitas tuan merupakan sikap yang sebaliknya. Moralitas tuan tidak mewujudkan apa yang seharusnya dilakukan tetapi apa yang senyatanya dilakukan. Moralitas tuan menghargai dirinya sendiri. Mereka selalu yakin, perbuatannya baik.

Ubermensch dan Moralitas Tuan-Budak

Dengan tidak adanya kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Nietzsche menginginkan kita hidup bukan sebagai budak yang takut akan tuannya melainkan menjadi tuan itu sendiri. Untuk kesempurnannya, Nietzsche memakai istilah Ubermensch. Ubermensch di sini tidak dimaksudkan sama dengan superman yang berkonotasi stagnan melainkan memakai istilah overman, yang berkelanjutan dan di dalam proses menjadi. Ubermensch adalah istilah yang terdapat di dalam buku Also Sprach Zarathustra. Di dalam Bahasa Indonesia, mengikuti istilah yang dipakai oleh Budi Hardiman, Ubermensch diartikan dengan kata “manusia atas”.

Manusia atas adalah manusia yang unggul yang lebih dari manusia lainnnya. Bagi Nietzsche, kebudayaan yang baik adalah kebudayaan yang membuat manusia-manusianya maju dan menjadi unggul. Sedangkan kebudayaan yang menganjurkan sikap durschnittlich (tengah-tangah/rata-rata) hanya akan menghilangkan bakat-bakat individu dan menjadikannya kawanan. Manusia atas adalah suatu proses terus menerus dan belum pernah ada yang bisa mencapainya.

Kawanan ini adalah kerumunan massa. Mereka adalah sarana untuk mencapai tujuan bukan tujuan itu sendiri. Manusia adalah sarana untuk mencapai manusia atas Perubahan kepada manusia atas harus didahului oleh sikap manusia yang kritis dan mengadakan transvaluasi, penjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada sampai akhirnya manusia itu mampu menentukan nilai-nilainya sendiri. Manusia atas selalu mengakui dirinya sendiri sebagai der Wille-zur-Macht dan tidak menutupinya dengan kedok.
Kehendak Berkuasa

Manusia atas selalu berhubungan dengan suatu tujuan-tujuan; kehendak untuk berkuasa (Will to power). Kehendak berkuasa adalah hakekat segala sesuatu, termasuk di dalam pengetahuan. Bukan saja manusia atas, melainkan juga semua manusia. Akan tetapi tujuan manusia atas tidak pernah mengacu pada hal lain selain dirinya sendiri. Kehendak berkuasa harus secara tegas melampaui manusia. Pemikiran ini adalah cara bagi Nietzsche untuk menyingkirkan moralitas dan menggantinya dengan konsep Ubermensch di mana manusia atas selalu bertindak murni dari dirinya sendiri.

Sekilas tampak bahwa manusia atas adalah manusia egois yang mengabaikan manusia lain. Tetapi Nietzsche tidak sependapat. Menurut Nietzsche, manusia atas tidak pernah mendominasi yang lain atau mengorbankan yang lain secara biologis maupun politis. Nietzsche menyebut hasrat kekuasaan yang salah sebagai “setan kekuasaan” atau “ hasrat fanatis akan kekuasaan.”

Pengertian yang ditekankan Nietzsche dari kehendak berkuasa adalah lebih merupakan suatu kualitas kehendak. Hal itu adalah suatu kedalaman eksistensial demi mentransendenkan diri sendiri. Manusia harus berusaha habis-habisan mencapai tujuannya. Dan itu tidak menggunakan insting tetapi dengan penguasaan diri yang penuh