Minggu, 15 September 2013

Ost Pendekar Rajawali (Return of The Condor Heroes) Versi Indonesia









Lyric Ost Pendekar Rajawali

Siapa yang merubah hatiku
Siapa yang membuat kita satu
Selalu menyatu beban kecewa
namun takkan ku kan berakhir

Siapa yang membuat ku pilu
Kembali datang masa lalu
Semakin dalam gejolak jiwa
Benci dan cintaku menyatu

reff:
Kenangan indah pun memudar
Alam di masa sendu
Walau kita kan berpisah
Rasa hati bergelora

Siapa yang membuat ku resah
Tak berharap untuk berjumpa
Benci dan cinta selalu menyatu
Tak pernah takut kan berakhir

Sekolah Adalah Pabrik


We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey! teachers! leave the kids alone!
All in all you're just another brick in the wall.
All in all you're just another brick in the wall.

(Pink Floyd - Another Brick In The Wall)





Seseorang pernah berkata bahwa di dunia modern, sekolah adalah pabrik. Para guru dan dosen adalah buruh yang diupah untuk bekerja demi kelangsungan sistem ekonomi komoditi. Kerja mereka adalah mencetak, mengemas, mendisiplinkan, mempersiapkan murid-murid mereka menjadi produk yang dapat laris diperjualbelikan, diperebutkan dipasar kerja. Produk yang baik tentu tinggi harga tawarnya. Produk yang baik adalah yang efisien, penurut, tahan lama, mampu menghasilkan keuntungan yang melimpah bagi penyewanya. Engkau bilang sekolah itu mencerdaskan? Tidak kawanku sekolah adalah pabrik untuk mencetak produk - persis seperti pabrik-pabrik lainya yang mencetak komoditi. Masalahnya komoditi disini adalah pelajar, mahasiswa. Tanyakan pada dirimu sendiri, untuk apa dirimu sekolah? Tentu saja, engkau akan menjawab; agar mudah mencari pekerjaan dan diupah dengan tinggi. Dan bagaimana caranya agar demikian? Tentu saja, engakau harus efisien, penurut, tahan lama, mampu menghasilkan keuntungan keuntungan berlimpah bagi penyewamu. Buka matamu kawanku, di sekolah atau di kampus, tugasmua bukan belajar agar menjadi manusia, tetapi belajar menjadi produk. Sungguh engkau tak lebih dari sekedar produk yang dapat diperjualbelikan dan dibuang dikala ada produk lain yang lebih baik.





Pernikahan dan Affair


Tak ada lagi batas untuk diruntuhkan, tak ada lagi mata rantai untuk dipatahkan selain pikiranmu sendiri. 
Kemabukan yang begitu tenang. Hasrat untuk hidup bebas, mencinta dan melarikan diri. 
Mimpi-mimpi telah mendahagakan diri akan harapan, menggigit dan menekan hidup. 
Interlude yang menggeliat, gerak yang melilit jemari, tangan yang meremas lembut dalam genggaman, melepaskan orgasme kemerahanmu lebih daripada aksi apapun. 
Cinta tak akan terdefinisikan, begitu subtil.
Maka saat itulah affair cintaku dengan sebuah spirit yang tak bernama bermula...



"Ai sia teu hayang cinta maneh abadi" (apakah kamu ga mau cinta kamu abadi). Salah seorang kawan bertanya padaku, dia merasa heran dengan kelakuanku yang akhir-akhir ini menjalankan hubungan affair dengan wanita yang sudah bersuami, Entahlah.., tapi bagiku cinta abadi itu memang tidak ada bagaimana bisa aku berharap keabadian pada makhluk yang tidak abadi, mencari cinta yang abadi bagiku adalah kesia-sian,

"Sia teu mikir geus ngarusak rumah tangga batur"  (kamu ga berpikir telah merusak rumah tangga orang)." lanjut kawanku. Bagaimana aku berpikir itu merusak bagiku affair dengan pernikahan adalah sesuatu hal yang berbeda. Pernikahan dan Affair tidak ada kaitanya sama sekali.

Mitologi-mitologi yang tersebar dari dunia Barat hingga ke Timur, memberitahukan satu hal: pernikahan adalah sebuah reuni dari dua sisi yang saling melengkapi. Awalnya kita semua adalah satu. Melalui pernikahan kita adalah dua di atas dunia, tapi poin yang ada jelas bukan hal tersebut, melainkan pertemuan kembali dua identitas spiritual. Inilah mengapa pernikahan seharusnya dibedakan dari affair cinta. Pernikahan tidak ada kaitannya dengan hal tersebut.

Affair cinta adalah sebuah pengalaman spiritual yang berbeda, yang tidak menjejakkan kaki di atas tanah yang sama, walaupun berhubungan. Saat satu pasangan menikah karena mereka berpikir bahwa pernikahan adalah sebuah affair cinta jangka panjang, mereka akan bercerai pada satu saat nanti—kalaupun tidak bercerai, mereka hanya berjalan berbarengan secara fisikal tanpa kedekatan spiritual apapun—karena semua affair cinta akan berakhir dengan kepedihan. Saat kita hidup dengan mengikuti kata hati kita sendiri, kita akan menemukan pasangan kita, baik lelaki ataupun perempuan, karena kita telah membuka medan magnet yang tersembunyi dalam diri kita sendiri. Kita membuka medan magnet tersebut justru dengan mulai hidup, bertindak, berpikir seperti adanya diri kita sendiri, bukan dengan sekedar hidup seperti yang orang lain inginkan atau hidup demi nilai-nilai artifisial orang lain. Saat kita mendengarkan diri kita sendiri, membiarkan hati kita menuntun hidup kita, maka kita akan menemukan orang lain yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Saat kita memilih pasangan berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh orang lain atau bahkan masyarakat, khususnya masyarakat modern, kita akan selalu terjebak pada kriteria-kriteria fisikal—kriteria-kriteria yang lebih cocok untuk affair cinta. Dengannya, kita menikahi orang yang tidak tepat. Tapi saat kita menikahi orang yang tepat, sadar atau tidak, kita telah merekonstruksi citra inkarnasi Tuhan, itulah arti sebuah pernikahan.

Tapi apabila pernikahan adalah sebuah pertemuan kembali, reuni, dari diri dengan diri, lantas mengapa Emma Goldman misalnya, begitu menentang pernikahan? Seperti kita ketahui, Emma Goldman bukanlah seorang materialis murni, karena ia juga percaya dengan keberadaan diri, dengan spiritual, dan bahkan eksistensi takdir, walaupun ia adalah seorang anarkis yang begitu peduli pada apapun yang bersifat material.

Di bawah hegemoni dunia modern, apa yang kita kenal dengan pernikahan bukan lagi sebuah pernikahan seperti yang dijabarkan di atas. Pernikahan adalah sebuah pertemuan dua diri secara spiritual. Aspek biologis dan fisikal, adalah sesuatu yang melengkapi tapi tidak menjadi sesuatu yang primer, apabila keduanya menjadi primer seringkali kedua hal tersebut membawa kita pada identifikasi yang tidak tepat. Seringkali, pernikahan yang sesungguhnya, justru tidak diresmikan atau dilegalkan di bawah Undang-Undang ataupun hukum pernikahan yang berlaku, saat pernikahan di era modern justru mengikat segalanya dengan berbagai aturan tertulis, penuh ancaman hukuman, dan karenanya, ikatan yang terjadi hanyalah sebuah ikatan di atas kertas bermeterai, bukan lagi ikatan berdasar etos. Kita selalu dihadapkan pada sesuatu yang bersifat fisik: kecantikan, ketampanan, kemapanan dan stabilitas ekonomi, legalitas yang disahkan di atas kertas, kehadiran penghulu. Fisik, fisik, dan fisik.

Tapi fisik juga bukan sesuatu yang seharusnya dihindari, terutama karena aku bukan seorang pendeta yang bercita-cita menjadi malaikat—makhluk spiritual tanpa ujud fisik. Aku adalah seorang manusia, yang memiliki aspek spiritual tapi juga ujud fisikal. Demikian juga dalam pernikahan, fisik juga sesuatu yang membuatnya lengkap tapi bukan sesuatu yang primer. Ada dua tahap dalam pernikahan. Pertama, adalah gairah yang mendorong impuls-impuls yang indah yang diberikan pada kita oleh alam dalam permainan seks yang secara biologis dapat memproduksi sebuah kehidupan baru. Seorang anak, adalah kehidupan lain di mana ia (atau mereka, apabila sang anak lebih dari satu) mengikatkan sekaligus menginisiasi relasi pernikahan untuk memasuki tahap selanjutnya. Pada saat sang anak beranjak dewasa, memilih hidupnya sendiri dan meninggalkan kedua orangtuanya, pernikahan memasuki tahap berikutnya. Saat inisiasi yang tanpa sadar diberikan oleh sang anak, seringkali kedua orangtuanya melihat bahwa pernikahan diikat oleh keberadaan sang anak, di mana mata rantainya adalah sang anak itu sendiri. Apabila demikian yang terjadi, maka kepergian sang anak akan membawa pergi juga pernikahan yang belum sempat memasuki tahap kedua. Dengan kata lain, pernikahan telah gagal dalam program inisiasi yang diberikan oleh sang anak.

Pernikahan juga bukan sebuah relasi. Relasi adalah keberadaan dua individu yang tetap sebagai individu, sementara seperti tadi kupaparkan di atas, pernikahan adalah peleburan dua individu menjadi satu, secara spiritual. Saat kita mengorbankan diri dalam pernikahan, pengorbanan tersebut bukanlah pengorbanan atas pasangan kita, melainkan pengorbanan demi kesatuan. Citra Cina atas Tao, dengan gelap dan terang berinteraksi—itulah kesatuan dari yin dan yang, satu yang tak dapat menjadi utuh tanpa lainnya, bagiku itulah arti pernikahan.

Pernikahan, adalah transendensi. Sementara affair cinta, adalah relasi. Pernikahan, adalah pengalaman spiritual. Sementara pernikahan di bawah dunia modern, adalah konstruksi sosial. Apabila yang kita kehendaki adalah transendensi, maka pengalaman tersebut tidak selalu perlu untuk hadir sebagai sebuah pernikahan legal di bawah dunia modern. Di titik ini, aku bergabung dengan Emma Goldman, atau juga Friedrich Engels yang melihat keluarga sebagai bagian terkecil dari struktur hirarki kekuasaan sosial.


Sabtu, 14 September 2013

Alienasi Posmodern, Destruksi Diri, Revolusi, dan Fight Club (Part.3)



- “It's only after you've lost everything that you're free to do anything.”

- "You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fucking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world."

- "People do it everyday. They talk to themselves. They see themselves as they'd like to be. They don't have the courage you have, to just run with it."

- "I say never be complete, I say stop being perfect, I say let... lets evolve, let the chips fall where they may." 

- "First you have to give up, first you have to know... not fear... know... that someday you're gonna die."

(Tyler Durden,Fight Club)

 Kelahiran Project Mayhem, “Tujuan Project Mayhem adalah penghancuran yang langsung dan komplit atas peradaban.” Mereka mulai membiarkan orang-orang dari Fight Club tinggal bersama mereka, setiap orang membawa seminimal mungkin perlengkapan untuk bertahan hidup. Tyler menyebut mereka sebagai “space monkeys”, sebagaimana monyet-monyet yang dijadikan bahan penelitian NASA, diluncurkan pertama kalinya ke luar angkasa, ke daerah-daerah yang belum tereksplorasi oleh manusia, monyet-monyet yang dikorbankan untuk kepentingan tujuan manusia yang lebih besar. Tyler menerangkan kepada mereka semua segala yang ia ketahui dalam soal kimia: bagaimana membuat napalm dan peledak dari sabun. Vandalisme merebak di kota-kota, dan semuanya dilakukan dengan semangat permainan yang tinggi, sebagaimana yang terlihat saat dilakukan peledakan dua buah ruang apartemen sebuah gedung, hal tersebut dibuat menjadi tampak seperti logo smiley face. Polisi mulai menyelidiki dan berniat menutup klub tersebut yang menurut kabar terlibat dalam sebuah gelombang aksi terorisme, tetapi hal tersebut dengan segera dihentikan saat Tyler dan sebagian kecil kelompoknya mengancam kepala kepolisian untuk menghentikan aksinya atau kemaluannya akan dikastrasi. Ini adalah sebuah simbol, dimana para anggota Fight Club tersebut mengancam untuk mengambil sesuatu yang secara implisit menjadi simbol otoritas kelelakian, dimana sang kepala polisi tidak mau membiarkannya terjadi. Salah seorang dari grup yang dibentuk oleh Tyler, yang secara eksplisit menyiratkan ketampanan, dipukuli oleh sang narator dalam sebuah perkelahian, penghancuran sebuah wajah yang indah. Ini juga menyiratkan secara simbolik tentang bagaimana kita kemuakan kita akan masyarakat membuat kita ingin menghancurkan apapun yang olehnya dianggap sebagai sesuatu yang bagus dan indah. Tidak lama setelah itu terjadi, narator menjadi seseorang yang justru tidak menjadi bagian di dalam Project Mayhem itu sendiri.

Saat sahabat sang narator, Bob, meninggal karena ditembak tepat di kepala oleh seorang polisi saat ia sedang menjalankan aksinya, sang narator mulai memberontak terhadap Tyler, justru bersamaan dengan saat dimana Tyler seakan menghilang dari muka bumi. Sang narator akhirnya justru melakukan apa yang didorong untuk lakukan oleh Tyler: hit the bottom. Atau dapat kita katakan sebagai “poin yang tak memiliki titik balik”, sebagaimana lalu dikatakan oleh sang narator, “Aku memang tolol, dan apapun yang kulakukan adalah sekedar menginginkan sesuatu dan membutuhkan sesuatu.” Dalam point terendahnya, sang narator mulai menyadari gambaran keseluruhan: bahwa ia adalah Tyler Durden. Tyler adalah personalitas disasosiatif yang dibawa oleh insomnia yang diderita oleh sang narator, kebencian akan kehidupan komersialnya dan hasrat terpendamnya atas Marla, yang juga menggaris bawahi keseluruhan kisah, kini mulai terkuak ke permukaan. Dalam dunia nyata, Tyler adalah bagian dari setiap diri kita yang tak puas saat memandang iklan di televisi, dan diatur untuk melakukan apa yang sebenarnya bukan keinginan kita. Ia hadir dalam setiap billboard yang kita pandang, setiap titik air mata yang menetes atas kesepian yang mendera, dan setiap impuls yang muncul saat kita berpikir bahwa kapitalisme bukanlah jawaban bagi kehidupan spiritual kita. Ia adalah setiap diri kita yang tak puas saat melihat mobil-mobil mewah berseliweran di jalanan, atau melihat para idiot dengan kunci mobil tergantung di saku belakang celananya, beruaha menikmati makanan di restauran termahal. Ia adalah setiap diri kita yang mulai percaya bahwa kita tak akan dapat menjadi bintang, yang membenci pekerjaan kita, yang benci menjadi pelayan bagi orang lain. Sang narator akhirnya berusaha untuk mengakhiri Project Mayhem dengan kekuatannya, tapi Tyler telah memprediksikan semuanya. Yang pada akhir kisah, Project Mayhem berencana untuk meledakkan setiap gedung yang menyimpan data kartu kredit di negara itu. Dan pada akhir film, kita kembali ke awal dimana sang narator terduduk di kursi dan sepucuk pistol diacungkan ke hadapannya, memaksanya untuk menyimak sebuah awal dari revolusi. Hanya dengan merealisasikan bahwa imaji Tyler bukanlah sesuatu yang nyata, maka ia dapat mengalahkan Tyler. Pada akhirnya, sang narator meledakkan pistol di mulutnya sendiri dalam usahanya untuk membunuh Tyler, melepaskan Tyler dari dirinya.

Tapi sang narator tidak mati, peluru tertembakkan menembus pipinya, sementara Tyler menemui ajalnya. Sang narator berkata, “Kadang engkau harus hit the bottom untuk membuat dirimu lebih baik.” Baginya diperlukan sebuah ledakan pistol di mulutnya untuk membuatnya sungguh-sungguh menemukan sebuah poin yang tak memiliki titik balik, dan saat ia melakukannya, seluruh dunia di sekelilingnyapun menjadi tampak lebih baik, sebagaimana yang ia impikan. Bom-bom mulai meledak, gedung-gedung penyimpan data kartu kredit runtuh, dan “Segalanya akan baik-baik saja.”

Banyak orang yang menonton film ini akan berkata bahwa tak seorangpun yang merasakan hal seperti yang dirasakan oleh para pemain di film ini. Kalau demikian, maka aku, kami disini, adalah orang-orang pertama yang akan mengacungkan tangan tanda keberatan. Sebagaimana yang telah kukatakan di awal, bahwa subyek alienasi dalam realitas seseorang seringkali menuju pada destruksi diri, karena hanya itulah yang dapat dilakukan seseorang dalam isolasinya. Dalam isolasi di penjara yang tak nampak seperti ini, banyak dari kita yang merasa terperangkap dalam dunia yang hanya mengenal jual beli, dunia pasar. Lalu mengapa beberapa orang gatal untuk melakukan sebuah revolusi seperti yang dilakukan orang-orang dalam film ini? Karena kapitalisme telah memberikan kita segalanya, tetapi mereka mengambil sisi sosial dalam diri kita, dan meninggalkan kita dalam kesendirian, walaupun kita berada di tengah kerumunan. Tidak seorangpun pernah merasakan hal ini? Baik. Tapi coba tanyakan pada ibu-ibu muda yang semenjak menikah tertimpa peran sebagai seorang “ibu rumah tangga”, yang melampiaskan kesepiannya dengan menonton telenovela, facebookan, berbelanja atau saling bertukar gosip. Tanyakan pada para suami mereka yang harus seharian bekerja di ruang-ruang sempit, dan pulang dalam keadaan lelah, beristirahat, hanya untuk kembali ke ruang-ruang tersebut keesokan harinya. Tanyakan pada seorang anak yang tak mampu menemukan seorangpun di rumahnya, mendengarkan keinginannya. Kami tahu seluruh generasi yang merasakan hal seperti ini. Kritik yang dilontarkan dalam film ini seakan bagi banyak dari kita menyatakan kalau orang-orang tersebut “sakit”. Baik. Tapi siapa yang membuat mereka–atau kita–semua merasakan hal tersebut? Ingat ucapan Tyler, “Aku adalah tanggung jawabmu.” Masalahnya mungkin banyak dari kita yang masih selalu berpikir bahwa apapun yang kita lakukan selama tak bersinggungan langsung dengan orang lain, merasa bahwa apapun yang kita lakukan tersebut tak memiliki kaitan dengan orang lain. Kita selalu berpikir bahwa hidup kita tak saling berkaitan, bahwa semua orang dapat hidup hanya dengan dirinya sendiri. Tapi sadarkah kita, bahwa perasaan kita itu sendiri yang menjadi bukti bahwa kita ada dalam sebuah isolasi? Bahwa kita tak pernah bersinggungan dengan orang lain? Dan bukankah kita sering merasa kesepian dalam keadaan yang kita jalani ini? Dan hal ini juga sudah dikatakan oleh Tyler, “Kita memiliki depresi terbesar dalam hidup kita sendiri. Kita memiliki sebuah depresi spiritual."



Jumat, 13 September 2013

Makrifat Syeh Siti Jenar "Manunggaling Kawula Gusti"



“Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri tidak lagi dipandang.
Papan tulis dan tulisan sudah lebur, dualitas tak ada lagi.
Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang?
Tak ada lagi sesuatu.
Maklumilah ini baik-baik, Adinda. Inilah penyembahan sempurna.
Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan, kau baru mewakili pengetahuan yang kurang sempurna. 
Jangan tersenyum bila kau belum mengentahui ilmu sejati.
Jangan merasa senang menerima ajaran dan instruksi.
Itu semua hanya berupa tutur kata.
Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkapkan dengan katakata.
Hanya keheningan yang tetap berharga. Keheningan berarti, jangan mengikuti Kitab Suci...”

-Petilan dari puisi Dandang Gula, Manunggaling Kawula Gusti,
Rama Zoetmulder S.J.

Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.

Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.

Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut;



Tentang Ketuhanan



M (murid)       ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”

S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.



M         ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”

S         ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.



M         ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?

S         ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.



M         ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?

S         ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.



M         ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?

S         ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada  yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.



M         ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?

S         ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.



M         ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?

S         ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!



M         ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?

S         ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.



M         ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?

S         ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.



M         ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?

S         ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.



M         ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?

S         ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.



M         ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?

S         ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.



M         ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?

S         ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.



M         ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci ?

S         ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang.  Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.



M         ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.

S         ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.



M         ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?

S         ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah.  Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.



M         ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?

S         ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.



M         ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?

S         ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.



M         ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?

S         ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam.  Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.



M         ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?

S         ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang  sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.



M         ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan  sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?

S         ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.



M         ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?

S         ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi,  jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia.  Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.



M         ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?

S         ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.



M         ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?

S         ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.



M         ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?

S         ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.



M         ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?

S         ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.



M         ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?

S         ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.



M         ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?

S         ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian.  Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas,  maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.



M         ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?

S         ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.



M         ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?

S         ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.



M         ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?

S         ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !



M         ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?

S         ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.



M         ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?

S         ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.



M         ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?

S         ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.



M  ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.

S         ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.



M         ; Maaf saya belum paham Syekh.

S         ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka  berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.



M         ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?

S         ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya. 


 Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam,  sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.



Sumber: sabdalangit.wordpress.com


Alienasi Posmodern, Destruksi Diri, Revolusi, dan Fight Club (Part.2)


- "You have to consider the possibility that God does not like you, never wanted you, in all probability he hates you. It's not the worst thing that could happen.”

- “Without pain, without sacrifice, we would have nothing.”

-  “We're the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We've all been raised on television to believe that one day we'd all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won't. ”

- "Listen up, maggots. You are not special. You are not a beautiful or unique snowflake. You're the same decaying organic matter as everything else."

 (Tyler Durden, Fight Club)

Fight Club adalah juga tentang apa arti menjadi seorang lelaki yang melayani orang lain (sebagaimana kalau secara tradisional menjadi bagian perempuan) dan bagaimana beberapa orang laki-laki mengkonstruksi sendiri identitas dan arti dalam hidupnya. Bagaimana sekarang telah tak ada lagi batasan gender dalam menentukan bidang pekerjaan memang menjadi fakta yang melatar belakanginya, tapi film ini justru mengeksplorasi maskulinitas dari sisi lain. Ada sebuah scene penting dimana sang narator dan Tyler saling berbagi tentang bagaimana ayah mereka terasa jauh dan meninggalkan mereka. Ayah sang narator pergi meninggalkannya saat ia masih berusia sangat muda, menikahi perempuan lain dan memiliki anak darinya, dan hal tersebut diulanginya beberapa kali seperti sebuah franchise. Sementara menurut Tyler ayahnya tak pernah mampu memberikan jawaban atas serial pertanyaan seperti, “sekarang apa?” dan hanya pada akhirnya menyarankan untuk hidup seperti orang-orang lainnya. Di beberapa scene kemudian, saat Tyler menjadikan sang narator sebagai subyek pembakaran cairan kimia di tangannya, Tyler menanyakan satu hal kepada sang narator, “Bagaimana kalau Tuhan tidak menginginkanmu? Bagaimana kalau engkau adalah salah satu anak-anak yang tidak diinginkannya?” Disinilah poin jawaban dimana sebelumnya Tyler pernah menyatakan bahwa ayah adalah representasi Tuhan baginya, dan kini adalah bagaimana caranya hidup dalam kondisi tidak diinginkan oleh siapapun. Hal ini terngiang-ngiang kembali saat kepribadian Tyler nanti meninggalkan sang narator, dan sang narator bergumam, “Ayahku membuangku. Tyler membuangku.”

Potensi lain yang menyoroti masalah maskulinitas, dimana identitas lelaki secara kontras (dan berpotensi menjadi sebuah harmoni) dengan perempuan sebagai partner hidup. Tyler berkata kepada sang narator, “Kita adalah generasi laki-laki yang dibesarkan oleh perempuan. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa perempuan adalah jawaban?” Dalam prospek pernikahan, dalam respon hipotetis atas pertanyaan Tyler “Sudah ini lalu apa?”, sang narator bergumam, “Bagaimana aku akan menikah? Aku lelaki berusia 30 tahun.” Tidak hanya sampai merasa bahwa Tyler adalah ancaman untuk Marla, sang narator mengambil langkah untuk melindunginya. Dan dalam momen terakhir film ini, ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari hubungan antara Tyler dan Marla. Dan sebagai penjelasan, ia hanya berkata kepada Marla, “Engkau telah bertemu denganku dalam waktu yang paling aneh dalam hidupku.”

Masih berbicara mengenai konteks laki-laki dan perempuan dalam film ini, Marla adalah representasi ekstrim dari kecemasan perempuan-perempuan modern seiring dengan bertambahnya waktu, yang hanya menemui bahwa opsi-opsi hidup bagi mereka semakin sedikit. Rasanya tak adil apabila menyebut hubungan antara Tyler dan Marla sebagai sebuah hubungan cinta semenjak hubungan tersebut hanyalah sebatas seks, sesuatu yang oleh masyarakat kita rindukan sekaligus dikutuk seiring dengan meningkatnya kehamilan dini dan AIDS. (Walaupun kita juga tidak bisa menyebut film ini sebagai film yang seksual).

Kembali kepada scene saat Fight Club mulai menguat, tak lama kita akan menemukan bagaimana sang narator dan Tyler dengan menggunakan tongkat baseball menghancurkan mobil-mobil di pinggir jalan, mobil-mobil yang tak akan pernah mereka miliki. Mereka juga mencuri lemak-lemak dari sebuah klinik sedot lemak, dimana hanya orang-orang kayalah yang mampu membayar operasi tersebut. Tyler dan sang narator mencuri lemak ini dan mengolahnya menjadi sabun, yang dengan kata lain mereka menjual kembali kepada orang-orang kaya tersebut sesuatu untuk membersihkan diri mereka sendiri. 

Segera, Fight Club membesar lebih daripada yang dibayangkan oleh sang narator sebelumnya dan menjadikan Tyler Durden sebagai legenda. Narator juga kemudian berkata bahwa Fight Club tak cukup lagi memadai. Sebagai responnya, Tyler memutuskan, “Ini saatnya untuk mengeksplorasi taktik.” Dalam poin ini, narator mengungkapkan kebenciannya tentang bagaimana generasi kita harus membersihkan bumi setelah generasi lain mengotorinya dan menuntut kita untuk membayarnya. Dalam buku, Tyler berkata, “Program daur-ulang dan pembatasan kecepatan adalah sebuah kebohongan belaka. Hal tersebut cuma seperti orang-orang yang berhenti merokok saat kematian sudah begitu dekat.”

Kejadian tersebut juga ditandai oleh keputusan sang narator untuk keluar dari pekerjaannya. Sebelum ia mengancam bossnya untuk memberinya gaji tetap walaupun tak perlu bekerja lagi di perusahaan tersebut hanya dengan bargain bahwa ia dapat membocorkan malpraktek perusahaan, sang narator mengirimkan e-mail berisi haiku kepada beberapa rekan kerjanya, yang berisi:

The worker bees can leave
The drones can fly away
The queen is their slave

Implikasinya adalah bahwa mereka, orang-orang yang berada di kelas atas dalam masyarakat adalah justru budak-budak bagi mereka yang termasuk dalam kelas pelayan, dimana Tyler, sang narator dan mereka para pengikutnya adalah bagian di dalamnya. Menarik, karena ada sebuah novel berjudul Alias Grace, karya Margaret Atwood, juga pernah menyoroti masalah ini sebelumnya. Dalam novel tersebut diungkapkan sebuah ide dimana kelas atas adalah justru mereka yang kekanak-kanakkan, tidak mandiri dan lemah. Tanpa kelas lain yang melayaninya, mereka justru akan seperti seorang anak kecil yang belum mampu berjalan yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Ada sebuah kecenderungan penghinaan terhadap mereka yang kelas sosialnya lebih tinggi dan di saat yang sama adalah sebuah pembenaran atas tindak parasitisme terhadap mereka. Ini juga dikatakan oleh Tyler saat ia membuat sabun dari lemak para perempuan kaya dan menjualnya kembali di toko-toko yang “chic”. Ia memberi penekanan pada “menjual kembali lemak mereka pada para perempuan kaya.”

Part 1 

Part 3





Kamis, 12 September 2013

Tokyo Love Story Versi Indonesia (1993)



Lyric Tokyo Love Story 

Ku tak tahu harus memulai dari mana
Sang waktu pun s'lalu terus mengejarku ke sana
Terbang melayang lalu menghilang
Tertelan kata kiasan cinta

Wajahmu yang cantik dan s'lalu menawan
Membuat susah diriku 'tuk mengatakan cinta
Namun hujan kan reda
Dan kita kan dapat berjalan bersama

Di hari itu dan di tempat itu
Bila kita tak pernah berjumpa
Mungkin kita tak akan percaya
Kau dan aku saling suka dan cinta

Hari ini kusuka
Esok pasti kucinta
Rasa itu s'lalu ada di dalam jiwaku
Tak kan pernah berubah
Apa yang pernah kukatakan kepadamu

Di hari itu dan di tempat itu
Bila kita tak pernah berjumpa
Mungkin kita tak akan percaya
Kau dan aku saling suka

Di hari itu dan di tempat itu
Bila kita tak pernah berjumpa
Mungkin kita tak akan percaya
Kau dan aku saling suka dan cinta